Sunday, September 2, 2012

Kilas Balik Kasus - Kasus Besar Yang Tak Terpecahkan & Tertangani


Catatan ini diambil dari 

Kilas Balik Kasus - Kasus Besar Yang Tak Terpecahkan & Tertangani by @STNatanegara pada link http://chirpstory.com/li/18657


Di benak saya terlintas tanda tanya besar terkait beberapa peristiwa besar yang tak terpecahkan dan belum tuntas penanganannya. Bila benang kusut peristiwa2 besar tersebut saya coba urai dan kait2 kan, sepertinya mulai terhubung oleh seutas benang merah ...
Dari sederet kasus/peristiwa yang belum juga terselesaikan hingga kini, sebagian dari kasus itu bertalian satu dengan yang lainnya. Berturut-turut adalah Antasari Ashar, Bibit -Chandra, Susno Duadji, dan Miranda Swaray Goeltom-Nunun Nurbaeti, Gayus Tambunan, Nazarudin.
Skandal Bank Century misalnya, mungkin saja punya pertalian dengan kasus-kasus Antasari Azhar, Bibit-Chandra dan Susno Duadji. Kasus pembunuhan Munir, kasus manipulasi suara dalam pemilihan umum 2009, maupun kasus rekening gendut Perwira Polri juga mungkin berkaitan serta beberapa kasus yang sedikit lebih ‘kecil’ yang melibatkan nama Artalita Suryani, Anggodo-Anggoro Widjojo, Aulia Pohan dan lainnya.
Tidak semua kasus punya keterkaitan langsung, namun setidaknya setiap kasus yang saya sebutkan terangkai oleh seutas benang merah. Benang merah itu dihubungkan oleh keterlibatan nama-nama besar dalam konteks kekuasaan yg memiliki peran layaknya sutradara dibelakang layar. Adanya kekuatan dalam kekuasaan membuat kasus2 itu lalu memiliki kesamaan lain, yakni sama2 sangat sulit terungkap untuk mendapat penuntasan. Kesamaan lainnya adlh dalam penanganan kasus2 tsbt menggunakan pola ‘main pinggir’, sehingga hanya pelaku2 pinggiran yang menjadi tumbal. Tokoh2 sentral sejauh ini aman dan terlindungi, mereka yang mengendalikan semua permainan untuk dan atas kepentingan sang titik sentral.

Pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen yang kemudian menyeret Antasari Azhar sebagai Ketua KPK ketika itu ke meja hijau bukan perkara sederhana. Kenapa Antasari harus jadi sasaran konspirasi? bisa jadi usaha pembongkaran apa dibalik drama ini akan membuka konspirasi yg lebih jahat lg. Membuka siapa yang main api di belakang panggung politik dan kaitannya dengan penghitungan suara Pemilu 2004 dan 2009 di tangan KPU.
Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden 2009 diduga adanya beberapa sinyalemen tentang manipulasi hasil pemilihan umum dg rekayasa TI. Pertama dlm Pemilu legislatif sorotan utama tertuju kpd Partai Demokrat yg suaranya meningkat sekitar tiga kali lipat dari Pemilu 2004. Kedua kemenangan SBY-Budiono yang sekitar 60 persen, dianggap too good to be true. mengingatkan kita pd hasil-hasil pemilu zaman Soeharto. Ketiga kecurigaan rekayasa IT KPU dimana dana yg besar tetapi tidak capable untuk digunakan mendukung pemilu yg bebas dari dugaan2 rekayasa. Keempat adanya tuntutan bahwa suara untuk Ibas, putera SBY, di daerah pemilihannya adalah hasil manipulasi dan dilaporkan ke Polri. Bukannya tuntutan itu ditindaklanjuti, tetapi sang pelapor, yang juga adalah kontestan, justru diproses oleh Polri atas perintah Kapolri BHD. Kelima seperti Pemilu sebelumnya, anggota KPU Andi Nurpati tiba-tiba diberi tempat dalam DPP Partai Demokrat, diduga sebagai balas jasa.
Disitulah nama Antasari terperosok dalam pusaran arus konspirasi yang akhirnya menjadikan Antasari sebagai pesakitan di penjara. Antasari Azhar juga adalah orang yang patut ‘disalahkan’ pihak Istana atas terseretnya besan Presiden SBY, Aulia Pohan ke penjara. Selain itu Antasari pula Ketua KPK yang terlibat proses awal menuju penanganan Kasus Bank Century yang akhirnya menjadi skandal BLBI II. Aksi Antasari ini bersamaan waktu dengan keberadaan dan peran Susno Duadji selaku Kabareskrim Mabes Polri dalam kasus yang sama. Kemudian Antasari dan Susno Duadji juga terkait kasus Cicak-Buaya dalam upaya rekayasa kasus Bibit-Chandra sbg upaya pelemahan KPK.
Dalam kasus Century, Susno sendiri adalah seorang jenderal polisi yang diyakini memiliki ‘pengetahuan’ tertentu terhadap kasus Bank Century. Dialah yang pernah mengusut langsung hingga ke Bank Indonesia– serta patut diduga mengetahui manipulasi Daftar Pemilih Tetap Pemilu 2009.
Antasari dan Susno Duadji kemudian bernasib sama, dicoba dibungkam melalui rekayasa dan pengungkapan ‘dosa lama’ dan permainan 'agen' wanita. Selain nama Antasari dan Susno, pusaran arus konspirasi terkait Century juga memunculkan nama petinggi BI yang juga terlibat kasus lain.. Dia Miranda Goeltom, dia tau tentang lika-liku internal BI, khususnya tentang kasus-kasus berkaitan dengan kekuasaan, Termasuk perannya dalam skandal Bank Century, telah terbukti menjadi kekuatan Miranda Goeltom hingga tidak kalah dengan "wonder woman". Antasari, Susno, Century, Andi Nurpati, Sri Mulyani, Budiono, Miranda memiliki kaitan sangat erat dengan Skandal Bank Century..
Skandal Bank Century sementara itu dianalisis sebagai bagian dari suatu mobilisasi dana politik besar-besaran yang memenangkan RI1 sekarang. Kasus skandal keuangan dan perbankan, kasus pembunuhan politik yang tak terungkapkan selalu ada nama besar di belakang tabir peristiwa. Kita juga tahu dan memahami betapa besar pengaruh uang dalam suatu kolusi dengan kekuasaan yang cenderung makin korup dan bobrok di masa lalu, uang dan kekuasaan, mengaburkan upaya pencarian kebenaran dalam kasus-kasus seperti skandal Edy Tanzil, korupsi di Pertamina, korupsi di Bulog, skandal BLBI yang terjadi menjelang masa peralihan kekuasaan Soeharto di awal reformasi, hingga skandal Bank Bali.
Kaburnya Edy Tanzil dari pengamanan LP Cipinang secara mudah dan tak ‘terendus’ hingga kini, menjadi cerita misteri lainnya yg tak terungkap. Edy Tanzil mendapat kredit besar dalam rangka pengambilalihan industri kimia, berdasarkan rekomendasi Laksamana Soedomo ex Kaskopkamtib. Terbukti seekali lagi, selalu ada nama-nama besar di belakang kejahatan-kejahatan berskala nasional. dari dulu, hingga sekarang..
Mulai dari pembunuhan Munir, penghilangan aktivis gerakan kritis menjelang 1998, sampai pembunuhan peragawati Dietje di masa Soeharto. Kasus korupsi yang boleh dikata sudah nyaris telanjang bulat di mata publik, tetap dibuat berputar-putar bila menyentuh lingkaran kekuasaan.
Bicara korupsi sayanganya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seakan tak berdaya di depan para koruptor, mafia hukum dan mafia perpajakan. Janji retorisnya memimpin pemberantasan korupsi di barisan terdepan, tak kunjung henti ditagih oleh masyarakat warga negara Indonesia. Janji sekedar janji malah sang waktu kembali menyingkap berbagai keterlibatan aparat di tubuh pemerintahannya dalam praktek-praktek kotor.
 “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu”. kritik dan sorotan dianggap gonggongan anjing pengganggu, tp kafilah korupsi lebih ‘berharga’.
Terlibatnya nama2 besar dalam berbagai kasus juga terjadi dalam rekayasa kasus pembunuhan peragawati Dietje di pertengahan 1980-an. Kita kembali ke masa lalu dulu untuk meyakinkan kita bahwa dibalik setiap peritiwa rekayasa selalu ada nama2 besar dilingkaran kekuasaan.
Peragawati Dietje di pertengahan 1980-an digunakan 'jasa' nya oleh seorang ex petinggi militer yang juga terjun ke dunia usaha. 'Jasa' peragawati Dietje digunakan untuk menyenangkan menantu seorang tokoh kekuasaan yang sangat penting. Berkat jasa Dietje, sang ‘jenderal’ pengusaha mendapat satu kontrak besar pembangunan sebuah bandar udara modern. Sayang hubungan Dietje berlanjut jauh dg sang menantu. saat affair itu ‘bocor’ ke keluarga besar, keluar perintah memberi pelajaran Dietje, hanya saja perintah yang semula hanya untuk memberi pelajaran ternyata ‘kebablasan’ menjadi suatu pembunuhan. Dietje ditembak di bagian kepala pada suatu malam tatkala mengemudi sendiri mobilnya di jalan keluar kompleks kediamannya di daerah Kalibata. Pak ‘De’ Siradjuddin yang dikenal sebagai guru spiritualnya dikambing hitamkan, ditangkap, dipaksa mengakui sebagai pelaku pembunuhan. Dia diadili dan sempat dipenjara bertahun-tahun lamanya sebelum akhirnya dilepaskan tanpa kejelasan akan kebenaran peristiwa ini.
Kasus Mr N dan Mr AU telah membuat pusaran arus tersendiri tetapi masih juga terkait dengan lingkaran kekuasaan. Dengan dugaan yang sama, kasus Mr N dan Mr AU dipastikan ada andil nama besar di belakang layar termasuk sang putra mahkota yg tersandera.
 “Satu rupiah saja Anas korupsi di Hambalang, gantung Anas di Monas” kalimat ini boleh anda anggap doa, mantera maupun kata2 mutiara. Tapi saya analisa bahwa sebenarnya Anas justru sedang mengirim pesan ke seberang Monas. di seberang Monas, berkantor Presiden RI SiBeYe. Anas sedang mengingatkan agar SiBeYe jangan membiarkan dirinya terpojok sendirian dan harus turun tangan menyelamatkan dirinya! Anas sebenarnya masih cukup kuat dan bisa menyelamatkan diri. tapi jika tidak diselamatkan, deretan domino akan rubuh secara berantai. Anas menasehati “KPK tidak perlu repot2 mengurus Hambalang. Karena itu, kan, asalnya ocehan dan karangan yg tidak jelas. ngapain repot2”.
Nazaruddin nampaknya seperti banteng terluka, merasa akan dikorbankan sendirian. maka ia menggapai-gapai kian kemari seperti membabi buta. Mr N menyebutkan nama2 yg terlibat mempermainkan uang negara: Angelina Sondakh, Mirwan Amir sampai Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum semuanya adalah kawan separtai dan I Wayan Koster dari PDIP. menyusul, Didi Irawadi dan terbaru Gede Pasek Suardika, merembet ke tokoh Golkar, Azis Syamsuddin yang namanya disebutkan oleh Mindo Rosalina Manullang dalam kaitan proyek di Kejaksaan Agung. Dalam rangkaian tali temali berbagai kasus, ada Ahmad Mubarok, Sutan Bathugana maupun Johnny Allen Marbun yang belum juga tuntas masalahnya.
Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat pun tak luput dari sorotan, seperti misalnya yang pernah dilansir oleh dua koran Australia,  The Age dan The Sydney Morning Herald, menyorot berbagai rumor politik. sorotan-sorotan terhadap diri dan partainya sungguh merepotkan SBY.
Tragis bagi bangsa ini, presidennya lebih dari 2 tahun tidak mengurus rakyat tetapi hanya sibuk bela diri, keluarga, kelompok dan partainya. Tak kurang beberapa tokoh memberi nasehat, “Adalah tidak patut menyimpan sampah, karena seharusnya sampah itu dicampakkan”.
Dengan dugaan adanya nama besar dibalik peristiwa, analisa saya Angelina Sondakh akan menjadi terdakwa terakhir yg akan dibawa ke pengadilan. Sembilan dari sepuluh kemungkinan, Anas Urbaningrum takkan pernah sampai ke depan meja hijau Pengadilan Tipikor apalagi di 'monas' kan. Sulit menyentuh Anas, tanpa menyentuh lebih jauh ke atas. bukankah bisa bubar republik ini seperti klaim dari Nazarudin tempo hari..?
Kasus Bank Century yang terkait dengan dana pemilu beberapa tahun silam, terarah ke figur Budiono dan SBY dengan Sri Mulyani sebagai tumbal. Behind every great fortune, there is a crime. di belakang angka-angka (uang dan ‘keberuntungan’) yang besar, cenderung terdapat kejahatan. Selalu sama, terjadi ‘sinergi’, tepatnya konspirasi, antara pejabat korup dan penyalahguna kekuasaan dg para pelaku ekonomi manipulatif.
Angka-angka biaya politik di belakang berbagai pemilihan umum presiden, legislatif atau kepala daerah, sejauh yang diketahui, selalu tinggi bahkan terlalu tinggi hingga menjadi fantastis, baik di kalangan the winners maupun di kalangan the loosers. Akibatnya bisa ditebak, begitu banyaknya pemenang pemilu itu kemudian terbukti terlibat tindak pidana korupsi dan penyalahgunaan wewenang.
Ada 17 dari 33 Gubernur dan 138 bupati/walikota, berarti lebih dari 1/4 jumlah bupati/walikota se-Indonesia yang tersangkut kasus korupsi. Anehnya para whistle blower malah dimasukkan secara keroyokan ke ladang pembantaian, atau justru dipendam agar tertutup mulutnya. Kenapa ini bisa terjadi? para tikus memang ada dan cukup kuat posisinya dalam beberapa posisi strategis dalam lingkaran kekuasaan.
Gayus Tambunan bisa dikatakan juga korban konspirasi, padahal berton-ton informasi telah keluar dari mulutnya. Apa yang sudah diungkapkan Gayus Tambunan ditengah upaya politisasi oleh Denny yang mengarah kepada Aburizal Bakrie, serta keterkaitan nama Komjen Susno Duadji, jaksa Cirus Sinaga dlm ‘misteri’ kasus Antasari Azhar, mengkonfirmasi adanya kejanggalan.
Saya ulas lagi kasus Gayus T, penanganan awal kasus Gayus Tambunan dilakukan di masa Kabareskrim dijabat Komjen Susno Duadji. Susno Duadji pula yang memicu ekspose kasus Gayus Tambunan ini dalam isu Mafia Pajak dan adanya Mafia Hukum di tubuh Polri. Susno menyebut keterlibatan nama-nama Brigjen Raja Erizman, Brigjen Edmond Ilyas serta sejumlah perwira polisi lainnya. Dua nama yang disebut Susno tersebut kini telah naik pangkat dan mendapatkan promosi jabatan strategis di Polri. Keterangan Susno juga merembet Jaksa Cirus Sinaga cs dan Hakim Muhtadi Asnun yang ‘membebaskan’ Gayus, keduanya juga telah dipenjara. Jaksa Cirus Sinaga, adalah jaksa penuntut umum yg gigih ‘menjebloskan’ Antasari Azhar melalui proses peradilan di Pengadilan Jakarta Selatan. Saat Antasari Azhar diadili, Susno Duadji tampil sebagai saksi yg memberi pengungkapan adanya rekayasa kepolisian dalam kasus Antasari Azhar. Berdekatan waktu dengan ‘penjemputan’ Gayus Tambunan di Singapura oleh Denny Indrayana dan tim Mabes Polri di bawah Komjen Ito Sumardi. Kemudian penjemputan Sjahril Djohan, terjadi insiden pencegahan dramatis di Bandara Soekarno-Hatta atas Susno Duadji oleh para perwira Polri.
Menarik untuk melihat adanya benang merah yang mempertalikan peristiwa-peristiwa itu sebagai satu rangkaian pola yang tersusun dengan rapi. Harapan publik pada janji SiBeYe tampaknya sia-sia meskipun publik tetap menagih komitmen dan janji politiknya untuk memberantas korupsi.
Kini borok Polri terungkap, untuk memperbaiki Polri, apapun caranya, semestinya kita bisa menoleh kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi bisakah itu? mungkin tidak, karena sekali lagi, ……. sepanjang menyangkut SiBeYe, harapan itu akan sia-sia….. terkubur dalam2...
Mengenai Polri VS KPK, dalam menghadapi ‘pertarungan’ dengan KPK, seorang Pati Polri menyebutkan telah dilakukan sejumlah ‘operasi gelap’. Pernah saya twitt tentang pentingnya pimpinan maupun intel KPK tidak tidur 24 jam beberapa waktu lalu.. terutama menghadapi rembesan. Rembesan itu berupa ‘operasi gelap’ intelkam Polri. diantaranya, penyadapan komunikasi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi. Dari penyadapan itu, bisa diketahui siapa pemimpin KPK yg paling getol mendorong pengusutan perkara di Polri utk dicari dosa masa lalunya. Selain itu penguntitan dan penjejakan terhadap beberapa petugas Komisi Pemberantasan Korupsi juga dilakukan terutama yang sedang disadap.  ‘Peluru berukir’ untuk membidik pemimpin KPK juga disiapkan.kesalahan yang mungkin dilakukan mereka pada masa lalu direview kembali. Operasi gelap penyadapan, mencari-cari celah kesalahan, saatnya mempertanyakan, sudah menjadi apakah wujud Polri sesungguhnya kini?
Apakah sang maharaja sutradara durjana tidak tau dan menutup mata ataukah malah memberikan titah?
Nagi saya terhadap polisi sekarang, silahkan anda mengatakan apa saja. Polisi bisa disebut, “……… berseragam”, atau apapun sebutan anda..
Silahkan anda mengisi titik-titik itu dengan apa yang anda pikirkan mengenai polisi saat ini....
Di sejumlah negara ‘dunia ketiga’ yg penegakan hukumnya kacau balau, ada sebutan populer, villain in uniform atau bandits in police uniform
STNatanegara 26/Aug/2012 12:38:32 AM PDT

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...